OTTAWA, KALIMANTANLIVE.COM – Wakil Perdana menteri sekaligus Menteri Keuangan Kanada, Chrystia Freeland, baru-baru ini mendapat pelecehan secara verbal.
Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau marah dan mengutuk pelaku pelecehan itu.
Justin Trudeau menyebut serangan dengan kata-kata kasar semacam itu sangat meresahkan.
# Baca Juga :Pengacara Keluarga Brigadir J: Isu Pelecehan Seksual, Pemerkosaan, dan LGBT Hoaks
# Baca Juga :Ada Banyak Jenis Pelecehan Seksual yang Harus Diwaspadai Kaum Perempuan, Apa Sajakah?
# Baca Juga :FAKTA Kasus Polisi Tembak Polisi, dari Pelecehan Istri Irjen Ferdy Sambo, Luka Sayatan hingga Jari Terputus
# Baca Juga :VIRAL Video Driver Ojol Lakukan Pelecehan Seksual, Polres Semarang Sebut Fakta Ini
Trudeau melihat semakin banyak pejabat publik dan orang-orang yang bekerja di sektor lainnya, menjadi sasaran pelecahan verbal.
Para korban terutama adalah perempuan, warga Kanada dinilai secara rasial, hingga kelompok minoritas atau kelompok komunitas yang berbeda.
“Kita harus bertanya pada diri sendiri negara macam apa kita ini, negara seperti apa yang kita inginkan?” ujar Trudeau dalam pidatonya pada Minggu (28/8/2022).
Dalam sebuah video yang dibagikan di Twitter pada Jumat (26/8/2022) malam, Freeland tampak sedang mendekati lift gedung balai kota di Grande Prairie, Provinsi Alberta. Tiba-tiba seorang pria meneriakinya.
“Apa yang kau lakukan di Alberta?” kata pria itu saat Freeland berjalan menuju dan masuk ke dalam lift.
Pelaku juga memanggil Freeland dengan sebutan “pengkhianat” dan “wanita jalang”. Video itu sudah ditonton ratusan ribu kali.
Freeland lahir di Alberta dan sedang melakukan perjalanan keliling provinsi itu untuk bertemu dengan pejabat, pengusaha, dan para pekerja.
Perempuan itu pun mengungkapkan insiden itu dalam sebuah cuitan di Twitter pada Sabtu (27/8/2022). “Tidak seorang pun, di mana pun, harus menghadapi ancaman dan intimidasi,” tulis Freeland.
Pelecehan yang dialami Freeland adalah inisden terbaru dari serangkaian serangan verbal terhadap kaum perempuan dalam kehidupan publik di Kanada.
Sebelumnya, sekelompok wartawati di negara itu secara terbuka membagikan serangkaian email pribadi dan anonim yang mereka terima. Email itu berisi ancaman kekerasan dan serangan seksual yang ditargetkan, disertai ungkapan rasial dan bernuansa kebencian terhadap wanita (misoginis).
Editor : NMD/Kalimantanlive.com










