KALIMANTANLIVE.COM – Media sosial diramaikan oleh percakapan soal anjuran mengonsumsi oralit sebagai salah satu cara mencegah dehidrasi saat kita menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan.
Menurut percakapan itu, oralit disarankan diminum saat sahur, sehingga tubuh terhindar dari haus, demikian isi salah satu klaim yang beredar di media sosial.
Di tengah kontroversi penggunaan oralit sebagai doping puasa akhirnya memmunculkan fenomena panic buying. Alhasil, stok oralit di pasaran menjadi langka.
# Baca Juga :Ramadan Fair 2023, Pemprov Kalsel Isi Pertunjukan dengan Hiburan Bernuansa Religi
# Baca Juga :Daftar Kesalahan Makan yang Harus Dihindari saat Berbuka Puasa Ramadan, No 1 Berbahaya!
# Baca Juga :Ngantuk saat Beraktivitas di Bulan Ramadan, Begini Cara Mengatasinya
# Baca Juga :Jadwal Imsak untuk Kalimantan Selatan Pekan Pertama Ramadan 1444 H
Minum oralit disebut-sebut bisa membantu tubuh agar terhidrasi selama menjalani puasa di bulan Ramadan.
Hal inipun mengundang banyak komentar dari berbagai pihak. Ternyata, tak sedikit yang menilai pernyataan terkait minum oralit untuk sahur dan buka puasa sudah cukup untuk membantu tubuh terhindar dari dehidrasi sebenarnya keliru.
Ada pula yang ikut meluruskan soal minum oralit selama bulan Ramadan ini. Salah satunya dilakukan dokter spesialis penyakit dalam sekaligus pakar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang aktif di Twitter, Prof Zubairi Djoerban.
Menurut Zubairi, minum oralit saat sahur agar tidak dehidrasi merupakan hal yang sah-sah saja. Hanya, oralit sama sekali bukanlah kebutuhan wajib.
“Sahur minum oralit agar tidak dehidrasi? Boleh saja. Tapi itu sama sekali bukan kebutuhan wajib,” ujar Zubairi mengutip cuitannya pada laman Twitter dengan akun @ProfesorZubairi, Senin (27/3/2023).
Boleh Minum Oralit dan Cairan Lain Apa Saja Asal Tak Berlebihan
Zubairi mengungkapkan bahwa konsumsi minuman apapun sebenarnya boleh-boleh saja ketika sahur dan buka puasa di bulan Ramadan. Hal yang perlu diingat hanya konsumsinya yang sebaiknya tidak berlebihan.
“Artinya Anda mau minum jus, susu, kopi, jahe, silakan saja konsumsi yang disuka. Jangan banyak aturan dan larangan,” kata Zubairi.
Bahkan, Zubairi ikut mengakui jikalau terkadang dirinya masih makan gorengan.
“Saya pun terkadang makan gorengan. Ya asal jangan berlebihan,” ujarnya.
Mengantuk memang menjadi musuh besar saat puasa. Alasannya karena waktu tidur berkurang akibat harus bangun untuk sahur, salat tarawih, dan kelelahan karena kurangnya asupan nutrisi.
Minum Oralit untuk Apa? Salah Satunya Mengatasi Dehidrasi, Bukan Mencegah
Prof Zubairi Djoerban Meningatkan Masyarakat yang Latah Membeli Oralit Lantaran Dipercaya Bisa Cegah Dehidrasi Saat Puasa. Namun, Pada Dasarnya Minum Oralit Saat Puasa Boleh-Boleh Saja, tapi Buat Apa?
Pendapat lain diungkapkan oleh Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Profesor Ari Fahrial Syam. Ari menjelaskan bahwa oralit dapat digunakan untuk mengatasi dehidrasi, bukan mencegah.
“Jadi, kalau kita mengalami dehidrasi, maka kita mengonsumsi oralit. Namun (oralit) bukan untuk mencegah dehidrasi,” kata Ari mengutip laman Antara.
Bahkan, Ari mengungkapkan bahwa orang dengan kondisi kesehatan tertentu tidak boleh mengonsumsi oralit tanpa dasar. Pasalnya, oralit mengandung gula dan garam yang bisa membuat kenaikan kadar gula darah pada orang dengan diabetes.
Dampak Minum Oralit pada Pasien-Pasien Tertentu
Sedangkan pada orang yang punya tekanan darah tinggi, oralit justru bisa memengaruhi kesehatan karena tingginya kadar garam di dalamnya.
“Oralit itu mengandung garam dan gula. Jadi pada orang-orang tertentu, yang misalnya punya masalah diabetes, gulanya bisa naik,” kata Ari.
“Kalau dia mempunyai hipertensi, maka tekanan darahnya bisa tinggi.”
Dehidrasi karena Puasa, Apa Benar Berbahaya?
Prof Zubairi Djoerban Meningatkan Masyarakat yang Latah Membeli Oralit Lantaran Dipercaya Bisa Cegah Dehidrasi Saat Puasa. Namun, Pada Dasarnya Minum Oralit Saat Puasa Boleh-Boleh Saja, tapi Buat Apa?
Lebih lanjut dalam cuitan berbeda, Zubairi menjelaskan terkait dehidrasi saat puasa. Menurutnya berdasarkan penelitian, dehidrasi karena puasa sampai sakit kepala sebenarnya tidak berbahaya.
Pasalnya, dehidrasi saat puasa berbeda dengan dehidrasi lainnya yang terjadi akibat hilangnya cairan atau diare berat yang dialami seseorang.
“Dehidrasi karena puasa sampai sakit kepala itu bahaya? Penelitian menunjukkan itu tidak bahaya bagi kesehatan,” kata Zubairi.
“Dehidrasi saat puasa beda dengan hilangnya cairan pada atlet dan diare berat. Asal mencukupi cairan setelah buka puasa dan sahur, ya aman-aman saja,” tambahnya.
Biasanya, menurut Zubairi, lemas dan pusing yang terjadi saat puasa dapat berkurang ketika seseorang tetap aktif beraktivitas lewat bekerja atau olahraga ringan.
“Teman saya selalu lemas dan pusing kalau puasa, kenapa? Puasa ya begitu. Makanya harus tetap aktif. Jangan diam dan tidur saja. Bisa juga kan olahraga ringan atau berkebun, atau bekerja,” ujar Zubairi.
Editor : NMD
Sumber : Kalimantanlive.com/berbagai sumber






