GEGER Penembakan di Rotterdam, 3 Tewas, Pelaku yang Kenakan Pakaian Tempur Membakar Rumah Sakit

ROTTERDAM, KALIMANTANLIVE.COM – Sedikitnya tiga orang tewas dalam penembakan di rumah sakit universitas dan sebuah rumah di kota pelabuhan Rotterdam, Belanda.

Kepolisian setempat mengkonfirmasi sejauh ini tiga orang tewas dalam penembakan tersebut. Korban adalah seorang dosen berusia 42 tahun dan seorang wanita berusia 39 tahun yang putrinya, berusia 14 tahun, juga tewas setelah mengalami luka serius.

Serangan lainnya terjadi di apartemen terdekat. Tidak jelas apakah kedua insiden tersebut ada kaitannya.

# Baca Juga :Kasus Penembakan Kantor MUI Pusat, Pelaku Mengaku Seorang Nabi, Tewas saat Ditangkap Polisi

# Baca Juga :10 Orang Tewas Usai Penembakan Brutal saat Perayaan Imlek di Los Angeles

# Baca Juga :Temuan Baru Komnas HAM di Kasus Brigadir J, Putri Candrawathi Menangis Usai Penembakan

# Baca Juga :Kapolri Sebut Polisi yang Ambil CCTV di TKP Penembakan Brigadir J Sudah Diperiksa

Seorang tersangka ditangkap di bawah helipad Erasmus Medical Centre, tempat salah satu penembakan terjadi. Polisi menahan seorang pria berusia 32 tahun dan sedang menyelidiki apakan dia terlibat dalam kedua penembakan tersebut.

Polisi Belanda menyampaikan, masih menyelidiki motif serangan yang dilakukan oleh pria berusia 32 tahun itu.

Pelaku diketahui juga berupaya membakar rumah sakit dan rumah tersebut.

Kepala Polisi Rotterdam Fred Westerbeke berbicara kepada wartawan, bahwa pria tersebut pertama kali masuk ke sebuah rumah dan melepaskan tembakan.

“Serangan itu menewaskan seorang perempuan berusia 39 tahun dan melukai putrinya yang berusia 14 tahun,” jelas dia, dikutip dari AFP.

Namun, selang beberapa saat, anak perempuan itu meninggal karena luka-lukanya.

Pelaku kemudian memasuki ruang kelas di rumah sakit universitas Erasmus MC, menembak mati seorang guru berusia 46 tahun sebelum memicu kebakaran lain di fasilitas tersebut, yang memicu kepanikan.

Polisi elit menyerbu rumah sakit, sementara staf medis yang panik dengan jas putih membanjiri gedung dan mendorong pasien yang menggunakan kursi roda dan tandu.

Seorang pasien, Angeliek Vleesenbeek, mengatakan bahwa ia sedang berdiri di luar rumah sakit sambil minum kopi ketika kekacauan terjadi.

“Itu adalah drama. Benar-benar drama,” kata perempuan berusia 54 tahun itu kepada AFP. Dia masih terhubung dengan infus.

Menurutnya, polisi meneriaki semua orang untuk lari ke sekolah terdekat.

“Mereka menyuruh kami untuk tetap di sana dan tidak boleh keluar lagi. Saya berada di sana selama beberapa jam dengan pasien lain, perawat, dokter. Saya melihat seorang saksi mata menangis,” jelas Angeliek.

Editor : NMD
Sumber : Kalimantanlive.com/berbagai sumber