“Ke depan kami yakin nilai tukar rupiah akan tetap stabil bahkan akan ada kecenderungan menguat khususnya di paruh kedua tahun 2024. Ini didukung meredanya ketidakpastian pasar keuangan globar, kecenderuangan penurunan yield obligasi negara-negara maju termasuk US Treasure, dan menurunnya tekanan penurunan dollar AS.” jelasnya.
Perry mengatakan penguatan ini didukung pula strategi operasi moneter yang pihaknya lakukan, yang pro market dalam rangka menjaga aliran masuk fortopolio asing dan pendalaman pasar uang.
BACA JUGA:
Bank Indonesia Nilai Pemilu 2 Putaran Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Untungkan Masyarakat
“Tentu saja, koordinasi antara Pemerintah dan BI terus diperkuat, khususnya dalam konteks implementasi instrumen penempatan palas devisa hasil ekspor sumber daya alam yang sejalan dengan implementasi PP nomor 36 tahun 202.3,” paparnya.
Terkait inflasi, terang Perry, selama tahun 2023 menurun dan terjaga dalam kisaran sasaran yaitu 3,1 persen. Sebagaimana diketahui Desember 2023 inflasi sebesar 2,61 persen.
Penurunan inflasi juga tercatat di sejumlah kompenen utama, termasuk inflasi inti terjaga 1,8 persen.
Hal ini, jelas Perry, dipengaruhi konsistensi kebijakan moneter BI yang pro terus pro stabilititi serta sinergi erat BI dengan pemerintah pusat dan daerah.








