BANJARMASIN, KALIMANTANLIVE.COM – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan (Dinkes Kalsel) menggelar Rapat Evaluasi Lintas Sektor Kesehatan Ibu dan Anak Termasuk Masalah Gizi Tingkat Provinsi Kalsel Tahun 2024 di Banjarmasin, Kamis (6/6/2024).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan peran lintas sektor pada pelaksanaan kesehatan ibu dan anak termasuk masalah gizi dan melakukan evaluasi pencapaian indikator Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Renstra program kesehatan keluarga dan gizi Tahun 2024.
# Baca Juga :Dukung GEMAR DARLING, Dinkes Kalsel Edukasi Program 8.000 Hari Pertama Kehidupan
# Baca Juga :Wujudkan Indonesia Emas 2045, Dinkes Kalsel Lakukan Gerakan Pengendalian Penyakit Prioritas
# Baca Juga :STR Tenaga Kesehatan Sekarang Berlakunya Seumur Hidup, Dinkes Kalsel: Pengajuannya di Satu Sehat
# Baca Juga :Serius Tangani Dampak Karhutla, Dinkes Kalsel Bagikan Masker dan Buka Posko Pelayanan Kesehatan
Kepala Dinkes Kalsel, Raudatul Janah mengatakan berdasarkan RPJMN Tahun 2020-2024, serta target Sustainable Development Goals 2030 menetapkan indikator utama bidang kesehatan yang diharapkan dapat memberikan gambaran tentang status kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Namun, terdapat beberapa masalah yang perlu diperhatikan, seperti tingginya angka kematian ibu dan bayi, kekurangan gizi, stunting, dan anemia.
Data dari Long Form Sensus Penduduk 2020 menunjukkan bahwa angka kematian ibu di Indonesia adalah 189/100.000 KH, angka kematian neonatal sebesar 9,30 per 1000 kelahiran hidup, angka kematian bayi sebesar 16,85 per 1000 kelahiran hidup, dan angka kematian balita sebesar 19,83 per 1000 kelahiran hidup.
“Untuk Provinsi Kalsel sendiri, pada 2023 angka kematian ibu sebanyak 145 per 100.000 kelahiran hidup, angka kematian neonatal sebanyak 10 per 1000 kelahiran hidup, dan angka kematian bayi sebesar 11,7 per 1000 kelahiran hidup,” kata Raudatul Jannah, Kamis (6/6/2024).
Tak hanya itu, masalah gizi juga perlu menjadi fokus perhatian. Hasil Riskesdas pada tahun 2018 menunjukkan bahwa underweight sebesar 24,5%, stunted sebesar 33,2%, dan wasting sebesar 13,1%, masih belum memenuhi target yang diharapkan.
“Survei Kesehatani Indonesia pada 2023 menunjukkan bahwa stunting di Kalsel mencapai 24,7%, dan anemia juga masih menjadi masalah gizi karena terjadi peningkatan prevalensi pada remaja putri dan ibu hamil,” ujarnya.







