Andi menyebutkan penonton film Saranjana mencapai lebih satu juta orang. Film ini merupakan garapan atau karya para sineas lokal Kalsel.
Menurutnya tugas kita saat ini yakni membantu melakukan pemasaran. Dengan begitu keberadaan film tersebut benar-benar menjadi nilai ekonomi yang besar.
Lebih lanjut Andi menyebutkan kawula muda adalah potensi besar pelaku ekraf. Mengapa? “Karena kawula muda menguasai teknologi informasi dan memiliki kreativitas serta inovasi tinggi,” sebutnya.
BACA JUGA:
Telan Total Anggaran Rp 264 Miliar, Pambangunan Kantor DPRD Kalsel di Banjarbaru Dimulai
Ekraf dikatakannya ada tiap kegiatan usaha/aktivitas. Secara umum, mulai dari aplikasi, pengembang permainan, arsitektur, desain komunikasi visual.
Kemudian desain produk, film animasi video, fashion, fotografi, kriya, musik, kuliner, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, televisi dan radio, seni rupa.
Andi menyebut Tala memiliki potensi ekraf yang besar. Terlebih di daerah agraris ini memiliki enam desa wisata, bahkan berdasar data tercatat ada enam desa wisata di Tala.
Secara keseluruhan di Kalsel jumlah desa wisata ada 49. Terbanyak di Kota Banjarmasin 10, Tanahbumbu 6, Tanahlaut 6, Banjar 6, Tabalong 5, Banjarbaru 4, Hulu Sungai Utara 3, Balangan 3, Baritokuala 3, Kotabaru 2, dan di Kabupaten Tapin 1.
Di Kalsel juga tercatat ada memiliki 57 atraksi wisata dan juga memiliki 27 paket edukasi.
Ia menegaskan bahwa ekraf adalah masa depan ekonomi Indonesia. Pemerintah pun juga telah membuktikan keseriusannya dalam mendorong tumbuhkembang ekonomi kreatif.







