Seleksi Masuk PTN Dinilai Lemah tanpa TKA
Doni menilai bahwa Tes Potensi Akademik (TPA) yang selama ini digunakan untuk seleksi masuk perguruan tinggi tidak mencerminkan kompetensi akademik siswa secara mendalam.
“TPA hanya mengukur kemampuan umum seperti penalaran dan literasi, tapi tidak menyentuh dasar keilmuan yang penting bagi jurusan tertentu,” ungkapnya.
Ia bahkan memberi contoh konkret: banyak siswa jurusan IPS yang mencoba masuk jurusan kedokteran mengalami kesulitan karena tidak punya latar belakang ilmu eksakta yang memadai.
Penjurusan Justru Membantu Siswa Fokus pada Karier Masa Depan
Dengan diberlakukannya kembali penjurusan dan TKA, siswa dapat mempersiapkan diri lebih baik untuk jenjang pendidikan tinggi yang sesuai minat dan kemampuan mereka.
“Jika siswa mengambil peminatan IPA, TKA akan menguji mereka berdasarkan pilihan itu. Jadi lebih terarah dan tidak memberatkan,” kata Doni.
Ia menegaskan, kebijakan ini bukanlah bentuk kemunduran, melainkan langkah realistis untuk memperbaiki kualitas pendidikan nasional.
“TKA akan memberikan gambaran objektif kualitas belajar siswa. Tidak seperti TPA yang hanya seperti survei,” pungkasnya.
Kesimpulan: Penjurusan Kembali Bukan Masalah, Tapi Solusi
Pengembalian sistem penjurusan di SMA serta pelaksanaan TKA diyakini akan memperkuat kualitas pendidikan nasional dan memperbaiki sistem seleksi mahasiswa yang lebih adil dan sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing.
(kalimantanlive.com/berbagai sumber)
editor : TRI










