KALIMANTANLIVE.COM – Angin segar sempat berembus ke pasar keuangan Tanah Air setelah nilai tukar rupiah menguat signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak Kamis (17/4/2025). Namun, euforia ini bisa jadi hanya sementara. Di balik penguatan tersebut, ada awan kelabu yang mengintai pergerakan kurs ke depan.
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah menguat dari Rp 16.877 per dolar AS pada Jumat (18/4/2025) ke level Rp 16.807 pada Senin (21/4/2025). Begitu pula pada kurs referensi Bank Indonesia (BI) melalui Jisdor, yang mencatat penguatan dari Rp 16.845 menjadi Rp 16.808.
# Baca Juga :Menko Airlangga: Fluktuasi Rupiah Adalah Hal Wajar, Ekonomi Indonesia Tetap Kokoh
# Baca Juga :Ramadhan Soccer Festival Dimulai, 40 Tim Se-Tala Rebutkan Total Belasan Juta Rupiah
# Baca Juga :Sindikat Oplos Elpiji di Bali Raup Miliaran Rupiah, Polisi Bongkar Modus Licik!
# Baca Juga :Rupiah Melemah, Defisit APBN 2025 Jadi Sorotan Pelaku Pasar
Rupiah Bangkit, Tapi Bukan karena Fundamental Domestik
Menurut Ariston Tjendra, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, penguatan rupiah ini lebih disebabkan faktor eksternal, bukan kekuatan ekonomi dalam negeri.
“Ini efek domino dari pelemahan dolar AS. Hampir semua mata uang Asia ikut menguat, termasuk yen Jepang, ringgit Malaysia, hingga baht Thailand,” ungkap Ariston, Senin malam (21/4/2025).
Salah satu penyebab utama pelemahan dolar AS adalah pernyataan mengejutkan dari Presiden AS Donald Trump yang mendesak The Fed agar segera menurunkan suku bunga. Hal ini memunculkan persepsi negatif dari para investor terhadap independensi Bank Sentral AS. Akibatnya, indeks dolar (DXY) rontok 1,30 persen ke level 98,09.
Hal senada juga disampaikan oleh Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios. Menurutnya, tekanan Trump terhadap The Fed telah membuat dolar kehilangan daya tarik di mata investor global.
Lalu, Bagaimana Nasib Rupiah ke Depannya?
Sayangnya, baik Ariston maupun Bhima menilai penguatan rupiah belum tentu berkelanjutan. Ada sederet faktor yang bisa membuat mata uang Garuda kembali tertekan dalam waktu dekat.
Ariston menyebut, ketidakpastian soal tarif resiprokal 32 persen dari AS terhadap produk Indonesia masih menjadi ancaman serius. Negosiasi masih berlangsung selama 60 hari, dan jika hasilnya negatif, ekspor Indonesia bisa terhantam, pabrik terpukul, dan potensi PHK meningkat.
“Urusan tarif ini belum selesai. Jika Indonesia tetap dikenakan bea tinggi, maka industri dalam negeri bisa terguncang,” jelas Ariston.










