KALIMANTANLIVE.COM – Menjelang Idul Adha, pertanyaan klasik kembali muncul: bolehkah penderita hipertensi dan kolesterol tinggi makan daging kurban? Hidangan khas seperti sate kambing dan gulai sapi memang menggoda, tetapi amankah bagi kesehatan?
Menurut dokter spesialis penyakit dalam, Dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD(K), daging pada dasarnya bukan musuh bagi penderita hipertensi atau kolesterol. Yang lebih berbahaya justru terletak pada cara pengolahannya.
# Baca Juga :JANGAN SALAH! Dibalik Gurihnya Jeroan dan Torpedo Kambing, Awas Kolesterol-Asam Urat Mengancam!
# Baca Juga :Mau Tahu 3 Cara Turunkan Kolesterol? Begini Cepat dan Mudahnya
# Baca Juga :Ciri-ciri Kolesterol Tinggi pada Mata Anda, Waspada Bisa Kehilangan Penglihatan!
# Baca Juga :Tips Santap Daging Tanpa Khawatirkan Kolesterol
“Sebenarnya kalau daging aja itu enggak apa-apa, yang jadi masalah itu karena garamnya banyak, micinnya, santannya, minyaknya,” ungkap Dr. Andi saat dihubungi Kompas.com, Rabu (28/5/2025).
Daging Tetap Aman, Asal Dimasak dengan Benar
Dr. Andi menekankan bahwa penderita tekanan darah tinggi dan kolesterol tetap dapat menikmati daging kurban, asalkan tidak dimasak dengan bahan-bahan berisiko tinggi, seperti santan, garam berlebihan, atau penyedap rasa buatan.
Ia menyarankan agar daging dimasak dengan metode sehat seperti direbus atau dijadikan sup bening, tanpa tambahan minyak atau lemak jenuh berlebih.
“Kalau dagingnya aja, betul tok itu aja, supnya bening gitu ya, enggak ada tambahan macam-macam. Harusnya daging itu sehat,” jelasnya.
Daging Sapi atau Kambing, Mana Lebih Aman?
Pertanyaan soal perbandingan antara daging sapi dan kambing juga sering mencuat saat Idul Adha. Namun, menurut Dr. Andi, keduanya sebenarnya memiliki kandungan gizi yang cukup seimbang.
“Ya, saya pikir 11-12, tetapi cara mengolahnya lah yang lebih penting,” katanya.
Artinya, daging kambing tidak otomatis lebih “jahat” dibanding sapi. Selama proses pengolahan dilakukan dengan tepat dan tanpa bahan tambahan yang membahayakan, kedua jenis daging tersebut tetap bisa dikonsumsi secara sehat.
Hitung Porsi, Jangan Berlebihan
Tak hanya cara memasak, porsi juga menjadi faktor penting. Dr. Andi menjelaskan bahwa kebutuhan protein harian seseorang dapat dihitung berdasarkan berat badan.







