KALIMANTANLIVE.COM – Laporan pertumbuhan ekonomi Indonesia terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) tengah jadi sorotan panas! Meski diklaim tumbuh positif, sejumlah analis dan ekonom justru menyebut ada kejanggalan mencolok dalam data yang dirilis. Ada apa di balik angka-angka ini?
Ekonomi Semester I 2025 Melemah, Tapi Tetap Diklaim Stabil?
Dalam konferensi pers terbaru, Deputi Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, menyatakan bahwa ekonomi nasional tumbuh 4,99 persen (year on year/yoy) pada Semester I 2025. Ini lebih rendah dibanding Semester I 2024 yang tumbuh 5,08 persen.
# Baca Juga :Menko Airlangga: Fluktuasi Rupiah Adalah Hal Wajar, Ekonomi Indonesia Tetap Kokoh
# Baca Juga :Gubernur BI Sebut Ekonomi Indonesia 2023 Salah Satu Terbaik Dunia, Digitalisasi Dahsyat
# Baca Juga :BREAKING NEWS: Rizal Ramli, Tokoh Ekonomi Indonesia Meninggal Dunia
# Baca Juga :Transformasi Menuju Era Ekonomi Baru, Bank Indonesia Kalsel Apresiasi Responden Survei dan Liaison
“Kuartal II memang naik jadi 5,12 persen, tapi karena kuartal I hanya 4,87 persen, kumulatifnya tetap mentok di 4,99 persen,” ujarnya.
Namun di balik pernyataan resmi ini, muncul sorotan tajam dari para pengamat.
Bhima Yudhistira: “Ada yang Aneh! Data Tak Sesuai Realita”
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, dengan tegas menyoroti inkonsistensi dalam data BPS, khususnya di sektor industri pengolahan.
“Data industri pengolahan BPS tidak nyambung dengan angka PMI Manufaktur dari S&P Global,” tegasnya.
Padahal, indeks PMI Indonesia sepanjang kuartal II-2025 justru berada di bawah level ekspansi:
April: 46,7
Mei: 47,4
Juni: 46,9
Artinya, industri manufaktur justru tengah mengalami kontraksi. Tapi anehnya, BPS justru melaporkan bahwa sektor ini tumbuh 5,68 persen dan menyumbang kontribusi terbesar terhadap PDB kuartal II, yaitu 18,67 persen!
“Bagaimana bisa? Ada PHK massal, smelter nikel berhenti produksi, efisiensi di mana-mana. Tapi datanya malah bilang industri tumbuh pesat?” cetus Bhima dengan nada curiga.
Konsumsi Rumah Tangga Juga Dipertanyakan
Tak hanya sektor industri, Bhima juga mengkritik data konsumsi rumah tangga yang disebut tumbuh 4,97 persen dan jadi penyumbang 54,25 persen PDB.
BPS menyebutkan bahwa pertumbuhan konsumsi didorong oleh libur panjang, mulai dari Idulfitri hingga libur sekolah. Namun Bhima menilai narasi ini tidak masuk akal.
“Lebaran cuma dapat sedikit di April. Tidak ada momen besar lain di kuartal II yang bisa dongkrak konsumsi. Ini justru aneh!” ucapnya.
Fakta lainnya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) malah menurun dari 121,1 di Maret ke 117,8 di Juni 2025—indikasi melemahnya daya beli masyarakat.
Wanti-Wanti Manipulasi Data: Ada Campur Tangan Politik?
Bhima bahkan mengangkat isu yang lebih sensitif: potensi intervensi politik dalam penyusunan data ekonomi nasional.
“Kalau data terus janggal seperti ini, masyarakat bisa kehilangan kepercayaan terhadap data resmi pemerintah,” tandasnya.








