FAKTA-FAKTA di Balik Film Animasi “Merah Putih: One for All”: Dari Kritik Hanung hingga Sorotan Soal Biaya

KALIMANTANLIVE.COM – Jelang tayang perdana pada 14 Agustus 2025, film animasi nasional Merah Putih: One for All mendadak jadi sorotan panas publik. Bukan hanya karena mengangkat tema kebangsaan di momen HUT ke-80 RI, tapi juga lantaran banjir kritik terkait kualitas animasi, jadwal tayang, hingga biaya produksinya yang dinilai “terlalu nekat”.

Bahkan, sutradara kenamaan Hanung Bramantyo ikut angkat bicara dengan nada pedas, memicu diskusi panjang di media sosial. Berikut 7 fakta lengkap yang bikin film ini jadi topik paling panas di jagat hiburan Tanah Air.

# Baca Juga :Film Bugday Tanesi Kisah Perjuangan Senator Turki Bela Hak Disabilitas Tambah Koleksi Perpusda Kalteng

# Baca Juga :GILA! Internet Jepang Tembus 1,02 Petabit/detik, Bisa Download Semua Film Netflix dalam 1 Detik!

# Baca Juga :5 Film Netflix dengan Skor Sempurna di Rotten Tomatoes 2025: No.1 Bikin K-Popers Teriak!

# Baca Juga :Semarakan Hari Anak Nasional 2025,  Disdik Kotim Gelar Nonton Bareng Pemutaran Film Pendek Ternyata Aku Korban

Trailer Viral, Warganet Kritik Visual Animasi

Dirilis lewat kanal YouTube Perfiki TV, trailer film ini langsung ramai diunggah ulang netizen. Sayangnya, banyak komentar menilai animasinya kaku dan tertinggal dari standar animasi lokal terkini, bahkan dibandingkan dengan film populer seperti Jumbo (2025).

Momen Rilis Tepat HUT RI, Tapi Dinilai Tergesa

Hanung Bramantyo mempertanyakan alasan film ini “buru-buru” tayang di bulan Agustus, di tengah antrean ratusan film nasional. “Ironisnya kok bisa dapat tanggal tayang di tengah 200 judul film Indonesia ngantre tayang?” tulis Hanung di Instagram Story.

Sindiran Pedas Soal Kualitas & Proses Produksi

Selain jadwal tayang, Hanung juga menyoroti kualitas yang dinilai belum matang. Menurutnya, produksi animasi berkualitas butuh waktu 4–5 tahun dengan biaya minimal Rp 30–40 miliar di luar promosi.

Biaya Produksi ‘Mini’, Hanya Rp 6,7 Miliar

Terungkap bahwa film ini digarap hanya dengan anggaran Rp 6,7 miliar dan waktu pengerjaan kurang dari dua bulan. Hanung menilai angka ini hanya cukup untuk membuat “storyboard berwarna” yang digerakkan sebagai panduan animator.

Produser Balas Kritik dengan Nada Sarkas

Produser Toto Soegriwo merespons komentar publik lewat Instagram pribadinya. “Senyumin aja. Komentator lebih pandai dari pemain. Banyak yang mengambil manfaat juga kan? Postingan kalian jadi viral kan?” tulisnya, menuai pro-kontra.

News Feed