JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Suasana di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025), mendadak memanas dan ricuh. Ribuan mahasiswa yang menggelar aksi unjuk rasa melawan DPR terlibat bentrokan simbolik dengan aparat, melemparkan bambu runcing, botol air mineral, hingga membakar tumpukan sampah di gerbang utama.
Sekitar pukul 14.20 WIB, situasi mulai tak terkendali. Massa aksi melempar kayu, botol, hingga bambu runcing ke arah pagar DPR yang dijaga ketat aparat. Tak berhenti di situ, api pun dinyalakan di depan barikade beton hingga menimbulkan asap hitam pekat yang membubung ke langit Senayan.
# Baca Juga :BREAKING NEWS! Hari Ini Ribuan Buruh Gelar Demo Serentak: Jakarta Memanas, Banjarmasin Bakal Ikut Bergejolak
# Baca Juga :Tolak Tapera, Buruh Bakal Demo Besar-besaran dan Serentak di Seluruh Indonesia pada 27 Juni 2024
# Baca Juga :May Day 2024, Disnaker Upayakan Mediator Fasilitasi Tuntutan Para Buruh Usai Demo di Tabalong
# Baca Juga :Mayday 2024, Ratusan Buruh di Tabalong Demo, Sampaikan 5 Tuntutan, Salahsatunya Soal Jam Kerja
“DPR hanya berpihak pada oligarki! Bubarkan DPR sekarang juga!” teriak salah satu orator dari atas mobil komando.
Seruan itu langsung dibalas teriakan lantang dari ribuan mahasiswa:
“Revolusi! Revolusi!”, “DPR pengkhianat rakyat!”, dan “Kami tidak takut, rakyat lawan oligarki!”
Coretan Perlawanan di Tembok DPR
Tak hanya melempar dan membakar, sejumlah massa aksi juga mencorat-coret tembok DPR menggunakan cat semprot. Tulisan bernada perlawanan seperti “DPR BAB”, “DPR Bungkam Rakyat”* hingga simbol-simbol revolusi menghiasi sisi kiri dan kanan gerbang DPR.
Atribut Perjuangan Mahasiswa
Kericuhan ini diawali sekitar pukul 13.50 WIB, saat rombongan mahasiswa dari berbagai universitas tiba di lokasi. Mereka datang dengan atribut kampus masing-masing: almamater biru Universitas Pancasila, biru tua Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), hingga kaus ungu Universitas Tangerang Raya.
Barisan depan membawa bendera Merah Putih, panji organisasi mahasiswa, hingga bendera ormas MKGR berwarna merah-oranye. Tak hanya itu, mereka juga mengibarkan bambu runcing sepanjang dua meter sebagai simbol perlawanan rakyat.
Sambil berjalan menuju gerbang DPR, mahasiswa dengan lantang menyanyikan lagu perjuangan “Buruh Tani” yang menggema di sepanjang jalan.
“Kami datang bukan untuk diam, kami datang untuk melawan!” teriak seorang mahasiswa dengan pengeras suara.









