KALIMANTANLIVE.COM — Sebuah pemandangan menakjubkan — sekaligus menggetarkan — tertangkap dari luar angkasa! Foto yang diambil oleh astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 12 Februari 2023 memperlihatkan bentuk menyerupai tengkorak manusia raksasa di tengah Gurun Sahara, seolah menatap langsung ke arah langit dari kawah vulkanik purba.
Fenomena ini berasal dari Trou au Natron, sebuah kaldera raksasa di wilayah Pegunungan Tibesti Massif, Chad, Afrika Tengah. NASA mengungkapkan foto tersebut melalui laman Earth Observatory, dan sejak itu memicu rasa takjub — bahkan ketakutan — di kalangan netizen dan ilmuwan.
# Baca Juga :VIRAL! 3 Debt Collector Rebut Motor Wanita di Cengkareng Akhirnya Dibekuk Polisi, Aksi Kasar Direkam Warga!
# Baca Juga :GEGER DI PASAR SUV LISTRIK! iCar V23 Resmi Meluncur, Desain Kotak Futuristik Bikin Anak Muda Jatuh Hati
# Baca Juga :Harga Emas Antam Hari Ini Anjlok Lagi! Turun Rp 15.000 per Gram, Investor Mulai Waspada!
# Baca Juga :GAZA BERDARAH LAGI! Serangan Udara Israel Hantam Rumah Sakit, 30 Warga Tewas di Tengah Gencatan Senjata
Lubang Vulkanik Purba di Tengah Sahara
Trou au Natron, atau “lubang natron” dalam bahasa Prancis, merupakan kaldera berdiameter sekitar 1.000 meter yang terbentuk akibat letusan dahsyat ratusan ribu tahun lalu.
Dalam bahasa lokal Teda, kawasan ini disebut Doon Orei, artinya “lubang besar” — nama yang sangat cocok bagi kawah raksasa yang kini menjadi salah satu formasi geologi paling misterius di Afrika.
Dari luar angkasa, bentuk kaldera ini terlihat sangat mirip tengkorak manusia — lengkap dengan “mata”, “hidung”, dan “mulut” yang tampak jelas. Namun, dari permukaan tanah, pola ini nyaris mustahil dikenali. Ilusi luar biasa ini hanya muncul dari sudut pandang orbit.
“Dari luar angkasa, bentang alam ini benar-benar menyerupai tengkorak raksasa yang menatap langit,” tulis NASA dalam keterangannya.
Rahasia di Balik Warna dan Bentuk “Wajah Tengkorak”
Bagian putih yang membentuk “pipi”, “hidung”, dan “mulut” ternyata bukan tulang — melainkan lapisan mineral natron, campuran alami dari natrium karbonat, bikarbonat, klorida, dan sulfat.
Lapisan ini membentuk permukaan mengilap seperti cat yang mengelupas, menghasilkan kesan menyeramkan saat terkena sinar matahari.
Sementara itu, “mata” dan “lubang hidung” tengkorak adalah kerucut abu vulkanik (cinder cones) — bukit-bukit curam yang terbentuk dari letusan purba.
Bayangan dinding kawah di sisi barat menambah efek tiga dimensi, membuat “tengkorak Sahara” tampak hidup dan menatap langit dalam diam.
Dari Danau Es Menjadi Padang Garam
Siapa sangka, ribuan tahun lalu kawasan ini bukanlah gurun tandus, melainkan danau glasial yang kaya kehidupan!
Penelitian tahun 1960-an menemukan fosil siput dan plankton di bawah lapisan natron, menandakan keberadaan air sekitar 14.000 tahun silam.
Studi lebih lanjut pada 2015 menemukan fosil alga berusia 120.000 tahun, memperkuat bukti bahwa Sahara dahulu adalah wilayah subur dan berair.
Namun seiring perubahan iklim ekstrem, danau itu mengering — meninggalkan jejak putih garam dan bentuk misterius yang kini dikenal sebagai “Wajah Kematian Sahara”.
Walau Trou au Natron kini tidak aktif, wilayah sekitarnya masih menunjukkan aktivitas geotermal.
Tak jauh dari sana berdiri Tarso Toussidé, kompleks gunung berapi besar dengan lapisan lava beku dan kawah aktif.
Gunung ini dikategorikan sebagai stratovolcano aktif oleh Smithsonian Institution’s Global Volcanism Program, meski belum meletus selama lebih dari 12.000 tahun.
Artinya, Sahara masih menyimpan tenaga bumi yang tidur, menunggu waktu untuk kembali bangkit.










