JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Pemerintah Denmark mulai mengerahkan pasukan pendahulu serta peralatan militer ke Greenland, menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Arktik. Langkah ini dinilai sebagai respons strategis atas kembali menguatnya perhatian dan tekanan politik Amerika Serikat terhadap pulau tersebut.
Pasukan pendahulu dikirim untuk mempersiapkan logistik, jalur pasokan, serta infrastruktur militer, sebagai antisipasi jika Denmark atau sekutunya perlu mengerahkan pasukan dalam jumlah lebih besar ke wilayah itu.
# Baca Juga :KPK Klaim Pegang Bukti Aliran Dana Kuota Haji, Nama Petinggi PBNU Ikut Disorot
# Baca Juga :SIAGA PERANG ARAB! Iran Siapkan Rudal ke Pangkalan AS, Trump Tarik Pasukan – Timur Tengah di Ambang Ledakan
# Baca Juga :Tergoda Flexing Timothy Ronald, Korban Kripto Rugi Rp 3 Miliar: Awalnya Untung, Berakhir Habis!
# Baca Juga :Puncak Musim Hujan Menggila! Kalsel Berawan dan Gerimis, Kalteng Dihantam Hujan Sedang hingga Lebat Hari Ini
Greenland, yang merupakan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark, memiliki posisi strategis sekaligus kekayaan sumber daya alam yang membuatnya menjadi rebutan kepentingan global.
Pasukan Pendahulu Mulai Disiagakan
Penyiar nasional Denmark, DR, melaporkan satuan komando pendahulu telah tiba di Greenland pada Rabu. Unit ini bertugas memastikan kesiapan fasilitas militer serta sistem pendukung operasional.
Penguatan diperkirakan melibatkan personel Angkatan Darat Denmark guna memperkuat kehadiran Angkatan Bersenjata Denmark di kawasan Arktik. Namun, sebagian besar kekuatan tempur Denmark saat ini masih terikat komitmen NATO di kawasan Baltik.
Denmark Tegaskan Kehadiran Militer Permanen
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen menegaskan bahwa negaranya tengah menuju kehadiran militer yang lebih besar dan permanen di Greenland.
“Kami kini melangkah menuju kehadiran pertahanan Denmark yang lebih kuat dan lebih permanen di Greenland, dengan partisipasi negara-negara lain,” ujar Poulsen.
Ia menambahkan bahwa seperti pada 2025, negara-negara NATO juga akan kembali terlibat dalam latihan militer di Greenland pada 2026.
Trump Kembali Soroti Greenland
Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa AS harus “mengakuisisi” Greenland demi mencegah pengaruh Rusia dan China.
Trump bahkan menyebut Greenland sebagai “kebutuhan mutlak” bagi keamanan ekonomi Amerika Serikat, serta menyamakannya dengan kesepakatan properti berskala besar.
Pemerintah Denmark dan otoritas Greenland langsung menolak pernyataan tersebut dan kembali menegaskan bahwa Greenland bukan wilayah yang dapat diperjualbelikan.
Warga Greenland Diliputi Kekhawatiran
Pernyataan Trump memicu keresahan di kalangan warga Greenland. Menteri Energi Greenland mengungkapkan sejumlah warga mengaku sulit tidur akibat ketidakpastian masa depan wilayah mereka.
Menteri Urusan Bisnis dan Sumber Daya Mineral Greenland, Naaja Nathanielsen, menegaskan bahwa seluruh pimpinan politik Greenland sepakat tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat.
“Kami adalah sekutu Amerika Serikat, tetapi kami tidak melihat diri kami sebagai bagian dari Amerika,” tegas Nathanielsen.










