JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Operasi evakuasi kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, memasuki tahap krusial. Tim SAR gabungan dijadwalkan melanjutkan evakuasi pada Senin (19/1/2026) pagi dengan menyiapkan dua skenario utama, yakni melalui jalur udara menggunakan helikopter dan jalur darat dengan pendakian ekstrem.
Di tengah cuaca buruk berupa hujan, angin kencang, dan kabut tebal, Basarnas menegaskan bahwa keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan di lapangan.
# Baca Juga :Saat Popularitas Tak Melindungi: 8 Artis Indonesia Bicara Soal Pelecehan Seksual yang Dialami
# Baca Juga :Dentuman di Senja Spanyol: Tabrakan Dua Kereta Cepat Tewaskan 21 Orang, Ratusan Penumpang Panik
# Baca Juga :Timnas Indonesia Siap Diuji Tim Eropa, Bulgaria dan Yunani Menguat di FIFA Series 2026
# Baca Juga :Harga Emas Antam Melejit Pecah Rekor Tertinggi, Tembus Rp 2.703.000 per Gram!
Kepala Basarnas Mohammad Syafii menyatakan bahwa helikopter Caracal disiapkan untuk melakukan evakuasi udara dengan metode hoist apabila kondisi memungkinkan.
“Opsi utama evakuasi adalah jalur udara. Helikopter akan mencoba mendekat ke puncak untuk melakukan pengangkatan. Namun jika cuaca dan medan tidak memungkinkan, evakuasi akan dilakukan melalui jalur darat oleh tim SAR gabungan,” ujar Syafii di Kantor Basarnas Makassar, Minggu (18/1/2026), dikutip dari Antara.
Evakuasi Korban dan Puing Pesawat
Selain fokus pada evakuasi korban, Basarnas juga menyiapkan langkah pengangkatan bagian-bagian badan pesawat yang berada di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Proses ini dinilai krusial untuk mendukung penyelidikan kecelakaan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Evakuasi tidak hanya menyasar korban, tetapi juga serpihan pesawat yang diperlukan untuk kepentingan investigasi KNKT,” tambah Syafii.
Cuaca Ekstrem Jadi Kendala Utama
Sementara itu, Kepala Kantor Basarnas Kelas A Makassar sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, mengungkapkan bahwa proses evakuasi penuh belum dapat dilakukan karena kondisi alam yang sangat ekstrem.
“Tim SAR masih bertahan di puncak Gunung Bulusaraung dan telah mendirikan tenda di sekitar lokasi penemuan korban. Evakuasi belum dapat dilakukan karena hujan, angin kencang, serta kabut tebal yang membatasi jarak pandang dan membahayakan keselamatan personel,” jelas Arif.
Meski demikian, tim tetap melakukan pengamanan lokasi, pendataan awal, serta identifikasi temuan sambil menunggu kondisi cuaca membaik.
Ratusan Personel Dikerahkan
Operasi pencarian dan evakuasi ini melibatkan ratusan personel gabungan, terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, potensi SAR, serta relawan. Berbagai peralatan khusus dikerahkan, mulai dari peralatan mountaineering, komunikasi lapangan, hingga dukungan udara.
Pemantauan cuaca dilakukan secara intensif mengingat masih terdapat serpihan pesawat dan jenazah korban yang belum dievakuasi di kawasan pegunungan Bulusaraung.










