JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan penguatan terhadap rupiah pada perdagangan pagi ini. Kondisi tersebut membuat mata uang Garuda masih berada dalam tekanan.
Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (4/2/2026), dolar AS tercatat berada di posisi Rp 16.761 per dolar, atau naik sekitar 7 poin (0,04%) dibandingkan perdagangan sebelumnya.
# Baca Juga :Hari Kanker Sedunia 2026 Diperingati 4 Februari, Ini Sejarah, Tema “United by Unique”, dan Kampanye Globalnya
# Baca Juga :Cristiano Ronaldo Tinggalkan Riyadh, Isu Cabut dari Al Nassr Makin Kencang Usai Terbang ke Portugal
# Baca Juga :China Resmi Larang Gagang Pintu Rata di Mobil Listrik, Dinilai Bahaya Saat Kecelakaan
# Baca Juga :Arsenal Akhiri Kutukan Semifinal Era Arteta, Lolos ke Final Carabao Cup Setelah Singkirkan Chelsea
Penguatan dolar ini menandakan bahwa rupiah masih belum sepenuhnya mampu keluar dari tekanan eksternal, terutama dari arah kebijakan moneter global.
Pergerakan Dolar Terhadap Mata Uang Lain Cenderung Stagnan
Selain terhadap rupiah, pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia terpantau bervariasi, meski sebagian besar cenderung stagnan.
Dolar AS tercatat tidak mengalami perubahan signifikan terhadap:
Dolar Kanada
Franc Swiss (CHF)
Dolar Hong Kong
Namun, dolar AS justru menguat cukup besar terhadap beberapa mata uang Asia lainnya.
Dolar Menguat Terhadap Yen dan Won Korea
Dolar AS menguat sebesar 0,40% terhadap yen Jepang, mencerminkan tekanan pada mata uang Negeri Sakura di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil.
Sementara itu, penguatan paling mencolok terjadi terhadap won Korea Selatan, di mana dolar AS naik hingga 1,64%.










