KALIMANTANLIVE.COM – Situasi geopolitik di kawasan Teluk kembali memanas setelah Iran menyatakan membuka akses terbatas di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh perwakilan Iran di International Maritime Organization, Ali Mousavi, yang menegaskan bahwa jalur pelayaran tetap terbuka, namun dengan pengecualian.
# Baca Juga :BREAKING NEWS: Kim Jong Un Resmi Terpilih Lagi Sebagai Presiden! Kekuatan Politik Korea Utara Kian Tak Tergoyahkan
# Baca Juga :DRAMATIS! Real Madrid Bungkam Atletico Madrid 3-2, Vinicius Junior Jadi Pahlawan di El Derbi Madrileno
# Baca Juga :SENSASIONAL! Maarten Paes Tampil Heroik di De Klassieker, Tangguh Sepanjang Laga Meski Gawang Dibobol Penalti
# Baca Juga :EMOSIONAL! Jürgen Klopp Akhirnya Kembali ke Liverpool FC, Siap Panaskan Anfield di Laga Legenda vs Borussia
“Selat Hormuz terbuka untuk siapa saja, kecuali ‘musuh’,” tegasnya.
Kapal Wajib Izin, Keamanan Jadi Prioritas
Meski tidak ditutup sepenuhnya, kapal-kapal internasional kini diwajibkan berkoordinasi dan melapor kepada otoritas Iran sebelum melintas.
Langkah ini disebut sebagai upaya menjaga keselamatan pelayaran dan stabilitas kawasan, sekaligus menunjukkan bahwa Teheran tetap mengedepankan jalur diplomasi dalam pengelolaan konflik.
Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan
Kebijakan ini berdampak langsung pada Indonesia. Dua kapal milik Pertamina, yakni PIS Gamsunoro dan VLCC Pertamina Pride, hingga kini masih berada di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa proses negosiasi dengan pihak Iran masih berlangsung dan diharapkan segera mencapai titik terang.
Sementara itu, pihak Pertamina International Shipping memastikan kedua kapal dalam kondisi aman dan terus dipantau secara intensif.
VLCC Pertamina Pride diketahui membawa misi penting untuk kebutuhan energi nasional, sedangkan Gamsunoro melayani pengiriman pihak ketiga.
Negara G7 Turun Tangan Amankan Jalur Energi Dunia
Ketegangan di Selat Hormuz juga menarik perhatian negara-negara G7 yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Jepang, dan Kanada.
Mereka sepakat untuk meningkatkan pengamanan jalur maritim demi menjaga stabilitas rantai pasok energi global.










