100 Ribu Orang Bakal Jatuh Miskin, Bila Pemerintah Naikan Harga Pertalite Jadi Rp10 Ribu

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo akan mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi pada pekan ini.

BBM bersubsidi yang dikabarkan akan naik harga adalah Pertalite dan Solar.

Sinyal kenaikan harga BBM ini mencuat setelah beban subsidi BBM dan kompensasi energi dalam APBN 2022 membengkak hingga Rp 502 triliun.

# Baca Juga :PERLU DIKETAHUI Mobil City Car Murah Pakai BBM Pertalite, Garansinya Bakal Hilang

# Baca Juga :CATAT! Ini Mobil Pribadi Dilarang Minum Pertalite Mulai 1 September, Cek Mungkin Mobil Anda!

# Baca Juga :Masyarakat Mengeluh Pertalite Mulai Kosong, Ini Alasan Petugas SPBU

# Baca Juga :Pakai BBM Tak Sesuai Rekomendasi, Garansi Stargazer Hangus

“Mungkin minggu depan (minggu ini) presiden akan mengumumkan mengenai apa dan bagaimana mengenai kenaikan harga (BBM) ini,” ujar Luhut, dalam kuliah umum di Universitas Hasanuddin, Jumat (18/7/2022).

Harus diakui, pemerintah seperti tak punya pilihan lain karena harga minyak mentah dunia melonjak setelah perang Rusia-Ukraina. Hal itu berpotensi membuat belanja subsidi energi semakin membengkak.

“Jadi, presiden sudah mengindikasikan tidak mungkin kita mempertahankan demikian karena harga BBM kita termurah se-kawasan dan itu beban untuk APBN,” terang Luhut, seperti dikutip di CNNIndonesia.com.

Tahun ini pemerintah mengalokasikan subsidi energi sebesar Rp502 triliun atau naik dari rencana awal yang hanya Rp170 triliun. Sementara, harga BBM penugasan Pertalite masih ditahan di level Rp7.650 per liter dan Solar bersubsidi Rp5.150 per liter.

Jokowi sempat menyatakan harga keekonomian atau harga pasar Pertalite sebenarnya mencapai Rp17.100 per liter. Ini berarti, pemerintah mensubsidi Rp9.450 per liter selama ini.

Sejumlah pengamat memproyeksi harga BBM Pertalite minimal naik 30 persen menjadi Rp10 ribu per liter. Lalu, harga Solar bersubsidi naik lebih besar sekitar 55 persen menjadi Rp8.000 per liter.

Jika ‘mimpi buruk’ ini benar-benar terjadi, beban pengeluaran masyarakat kelas menengah ke bawah akan membengkak. Alih-alih membaik pascapandemi, hidup banyak orang justru makin susah.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan jumlah orang miskin akan tambah banyak jika pemerintah mengerek harga Pertalite dan Solar bersubsidi. Sebab, biaya untuk membeli BBM mau tidak mau akan bertambah mahal.

Hal itu akan berpengaruh kepada sebagian masyarakat kelas menengah ke bawah yang memiliki sepeda motor dan bergantung pada Pertalite.