Antisipasi Risiko El-Nino, TPID Kalsel Gelar High Level Meeting, Wahyu Pratomo Tekankan Lima Langkah Pengendalian Inflasi 

“Dalam jangka pendek, pertama, integrasi data stok dan neraca pangan guna mengecek ketersediaan pangan. Dalam konteks itu pula, kita perlu mendorong agar Kerja Sama Antardaerah (KAD) terus ditingkatkan hingga ke level Business to Business,” sebut Orang Nomor Satu di Kalsel tersebut.

Kedua, lanjutnya, senantiasa mengecek ketersediaan stok pangan di pasar sejalan dengan upaya peningkatan cadangan pangan. Ketiga, optimalisasi fiskal daerah untuk stabilisasi harga. Sahbirin juga mengungkap, hingga Juli 2023, pihaknya telah merealisasikan anggaran belanja tidak terduga (BTT) sebesar Rp10,6 miliar dalam rangka pengendalian inflasi.

BACA JUGA:
BI Kalsel Gelar Kompetisi Karya Literasi Sasirangan 2023, Dorong Generasi Muda Cintai Kain Sasisangan

“Sedangkan dalam jangka panjang, kita perlu memperkuat sarana dan prasarana pertanian guna tingkatkan cadangan pangan, khususnya beras, melalui perluasan implementasi teknik budidaya pada apung,” lanjut Paman Birin.

Inovasi pertanian berupa budidaya pada apung, sebut Gubernur Kalsel Sahbirin, merupakan teknik menanam padi di lahan rawa pada bidang styrofoam.

Menurut dia, pengembangan teknik budidaya padi apung punya potensi tinggi untuk tingkatkan cadangan beras, mengingat area rawa di Kalsel sangat luas mencapai 290 ribu hektare.

Senada dengan itu, Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalsel Wahyu Pratomo juga memberikan perhatian lebih pada komoditas beras. Menurutnya, meski berangsur terkendali, inflasi beras di Kalsel pada Agustus 2023 masih tercatat tinggi yakni sebesar 21,7% (yoy).

“Kenaikan harga beras dunia terjadi karena berbagai faktor, utamanya perubahan iklim dan kebijakan proteksionisme negara-negara di dunia untuk menjaga ketahanan pangan di masing-masing negara. Termasuk India, produsen utama beras dunia, yang telah melarang ekspor beras sejak Juli 2023,” ungkap Wahyu.