“Dulu, dalam adat perkawinan Banjar ada usung pengantin batatai dan tradisi berbalas pantun. Sekarang hampir tidak kita temui. Kalau tidak kita hidupkan kembali melalui sekolah, budaya ini bisa benar-benar hilang,” tegasnya.
Menurut Yamin, kegiatan ini memacu keterlibatan aktif seluruh elemen sekolah dan dukungan pemerintah daerah. Namun ia juga mengingatkan perlunya kesinambungan program agar pelestarian budaya tidak berhenti pada kegiatan tahunan semata.
Baca juga : Wali Kota Banjarmasin Resmikan Gedung Belajar YIKAMUZ, Tekankan Pentingnya Investasi Karakter Anak
“Sekolah harus menjadi ruang yang konsisten menanamkan nilai budaya, bukan hanya saat acara besar, tetapi juga dalam keseharian peserta didik,” katanya.
Sejalan dengan itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Ryan Utama, menyampaikan bahwa kegiatan di SMPN 2 Banjarmasin merupakan bagian dari program prioritas Pemkot dalam penguatan nilai seni, budaya, dan bahasa daerah di sekolah.
“Salah satu fokus kami adalah menanamkan kembali nilai seni dan budaya Banjar kepada anak-anak. Tadi kita melihat busana pengantin Banjar, madihin, musik tradisional, hingga adat usung. Pada kenyataannya, banyak dari tradisi ini sudah sangat jarang dilaksanakan,” ungkap Ryan.
Dia menjelaskan, Dinas Pendidikan telah mengeluarkan surat edaran Program Sabanjaran (Sehari Berbahasa Banjar di Sekolahan) sebagai penguatan revitalisasi bahasa daerah. Pagelaran di SMPN 2 Banjarmasin disebutnya sebagai salah satu bentuk implementasi nyata dari kebijakan tersebut.
“Program ini sebenarnya sudah berjalan, namun sekarang kita lebih giatkan lagi. Harapannya, anak-anak tidak hanya mengenal budaya Banjar, tetapi juga menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.










