“Kita sangat sayangkan Denny Indrayana terus membuat komentar yang tidak jelas. Sekarang buat komentar A, besok buat komentar B, lusa komentar C yang nadanya justru meresahkan masyarakat Kalsel. Menyebut masyarakat Banjarmasin 70% ikut pemilu karena duit kan pernyataan yang kebablasan,” kata Din Jaya geram.
Persoalannya, Denny yang melontarkan pernyataan-pernyataan seolah telah banyak terjadi penyelewengan, ternyata faktanya tak pernah melapor kepada pihak berwenang.
“Kalau memang ada bukti, laporakan kepada pihak berwenang. Lha Denny tidak pernah melapor ke berwenang, tapi terus keluarkan pernyataan-pernyataan yang mengadu domba masyarakat. Jangan jual kecap, kasihan masyarakat banua ini,” tambahnya.
BACA JUGA:
Wacana Libur PSU 9 Juni 2021, Pj Gubernur Safrizal: Diumumkan 2 Minggu Sebelum Pelaksanaan
Menurut Din Jaya, sebagai ahli hukum Denny seharusnya melapor ke pihak berwenang jika ada pelanggaran hukum.
“Pak Denny kan seorang profesor yang pasti wawasannya luar biasa. Seharusnya dia memberi contoh berpolitik dan berkontestasi secara santun dan beradab,” keluhnya.
Din Jaya juga mengkritisi pernyataan Denny tentang buzzer di Kalsel yang berbayar antara Rp 600 juta sampai Rp 1 miliar.
“Laporkan ke polisi kalau memang ada. Pihak berwajib setahu saya punya cyber crime. Jadi kalau memang ada buzzer atau penebar hoax yang merusak dan mengadu domba, pasti segera ditangkap oleh polisi. Lha ini tidak melapor dan faktanya polisi tidak pernah menangkap buzzer di Kalsel,” tegasnya.
Lebih jauh Din Jaya mengatakan, masyarakat sudah tahu bahwa Denny Indrayana panik karena sudah merasa bakal kalah melawan Paman Birin pada PSU Pilgub Kalsel, sehingga mengelurkan pernyataan-pernyataan membingungkan dan mengadu domba masyarakat.







